Episode 5 : Data Cemaran PM 2,5 di Pulau-Pulau Indonesia dan Penyebabnya Pada Kurun Waktu tahun 1998-2018
Grafik antara tahun cemaran PM2.5 serta identifikasikan laju kenaikan cemaran PM2.5 di masing-masing wilayah pada kurun waktu 1998-2018
Analisis Data :
1. Data Pm 2,5 di Pulau Sumatra
Konsentrasi rata-rata cemaran PM2.5 di pulau Jawa mengalami puncak tertinggi pada tahun 2014 yaitu sebesar 22,97226898 µg/m3 dan mengalami penurunan yang cukup ekstrim pada tahun 2017 yaitu dari 21,61966388 µg/m3 menjadi 17,87067225 µg/m3. Laju kenaikan dan penurunan cemaran PM2.5 di pulau Jawa cenderung lebih stabil jika dibandingkan dengan pulau Sumatera.
3. Data Pm 2,5 di Pulau Bali & Nusa Tenggara
Konsentrasi rata-rata cemaran PM2.5 di pulau Bali dan Nusa Tenggara mengalami puncak tertinggi pada tahun 2011 yaitu sebesar 10,98583336 µg/m3 dan mengalami penurunan yang cukup drastis pada tahun 2016 yaitu dari 10,61950003 µg/m3 menjadi 9,431166653 µg/m3. Pada pulau Balidan Nusa Tenggara kenaikan dan penurunan cemaran PM2.5 sama seperti pada pulau Jawa yaitu cenderung lebih stabil. jika dibandingkan dengan pulau Sumatera.
4. Data Pm 2,5 di Pulau Kalimantan
Konsentrasi rata-rata cemaran PM2.5 di pulau Kalimantan mengalami kenaikan ekstrim pada tahun 2015 yaitu sebesar 37,0903636 µg/m3 dan mengalami penurunan yang sangat ekstrim pada tahun 2016 yaitu dari 37,0903636 µg/m3 menjadi 12,12109089 µg/m3. Laju kenaikan dan penurunan cemaran PM2.5 di pulau Kalimantan cenderung tidak menentu pada setiap tahunnya.
Konsentrasi rata-rata cemaran PM2.5 di pulau Papua mengalami puncak tertinggi pada tahun 2014 yaitu sebesar 15,19375008 µg/m3 dan mengalami penurunan yang cukup drastis pada tahun 2016 yaitu dari 14,50975004 µg/m3 menjadi 10,96149997 µg/m3. Di pulau Papua laju kenaikan dan penurunan cemaran PM2.5cenderung cukup stabil seperti di pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,serta Sulawesi.
Menggunakan berbagai sumber ilmiah seperti artikel jurnal/website/buku), terdapat penjelasam ilmiah terhadap data kenaikan dan kelajuan cemaran PM 2,5 di masing-masing wilayah pada kurun waktu 198-2018 :
Pulau Sumatera :
Konsentrasi rata-rata cemaran PM2.5 di pulau Sumatra mengalami puncak tertinggi pada tahun 2015 sebesar 27,3658552 g/m atau sebesar 5 kali lipat dari mutu pertahunnya. PM2.5 mengalami kenaikan drastis disebabkan karena adanya kebakaran lahan yang hebat di wilayah Sumatera. Berdasarkan pengamatan grafik, dapat dilihat pada tahun 2005-2006 mengalami peningkatan yang cukuptinggi, hal tersebut diakibatkan karena terdapat peristiwa El Nino yang merupakan fenomena musim penghujan yan datang lebih akhir dengan serta menurunkan total curah hujan. Wilayah yang terpengaruh oleh peristiwa El Nino yaitu wilayah Sumatera bagian timur. Kenaikan konsentrasi PM 2.5 tersebut berkaitan dengan kabut asap hasil kebakaran hutan serta dengan durasi lama pada periode El Nino (Cholianawati, dkk, 2020). Menurut Sutarini (2019) pada saat di tahun 2016-2017 cemaran PM2.5 mengalami penurunan dikarenakan berkurangnya kasus kebakaran hutan. Dan Kenaikan dan kelajuan cemaran PM 2.5 di pulau Sumatera ini disebabkan karena adanya aktivitas manusia seperti penggunaan kendaraan bermotor yang berbahan fosil, kebakaran hutan, dan sebagainya.Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab terjadinya oksidasi hidrokarbon, yang nantinya dapat menyebabkan peningkatan nilai PM 2.5 di udara.
Pulau Jawa :
Laju Kenaikan dan penurunan PM2.5 di pulau Jawa cenderung lebih stabil jika dibandingkan dengan pulau Sumatra. Menurut BMKG pulau Jawa masuk ke dalam level sedang pada kurun waktu 1998- 2018 yaitu antara 16-65 µg/m3. Pulau Jawa kenaikan cemaran partikulat di setiap tahunnya Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aulia, dkk (2022), di sebabkan karena banyaknya aktivitas kendaraan bermotor berbahan bakar fosil di pulau yang angka populasinya tinggi ini menjadi penyebab utama tingginya konsentrasi sulfur dioksida (SO2). Sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu komponen gas polutan di atmosfer yang berasal dari pembakaran minyak bumi dan batu bara ( Aulia, dkk ,2022). Menurut analisis BMKG, konsentrasi PM 2.5 di pulau Jawa ini disebabkan oleh berbagai sumber emisi yang berasal dari sumber lokal seperti transportasi dan residensial, maupun dari sumber regional yaitu kawasan industri seperti di kota Jakarta. Emisi dalam kondisi tertentu dapat terakumulasi dan menyebabkan peningkatan konsentrasi yang terukur pada alat monitoring pengukuran konsentrasi PM 2.5. Selain itu, pergerakan polutan udara seperti PM 2.5 ini dipengaruhi oleh pola angin yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Angin yang membawa PM 2.5 dari sumber emisi dapat bergerak menuju lokasi yang lainnya sehingga dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi PM 2.5. Peningkatan konsentrasi PM 2.5 ini juga disebabkan oleh tingginya kelembapan udara yang relatif menyebabkan peningkatan proses adsorpsi.
Pulau Bali dan Nusa Tenggara :
Berdasarkan data angka cemaran PM2.5 di Pulau Bali dan Nusa Tenggara pada kurun waktu 1998- 2018 dapat dinyatakan bahwa angka cemaran tersebut dalam kategori Baik (0-15,5 µg/m3) yaitu dalam rentang 7,710499992 µg/m3 (pada tahun 1998) sampai 10,98583336 µg/m3 (pada tahun 2011). Dilihat dari tinjauan pada aplikasi IQAir, di kawasan Pulau Bali dan Nusa Tenggara berada pada daerah dengan indeks warna hijau yang artinya termasuk dalam kondisi udara berkategori Baik. Tetapi, terdapat beberapa kota yang memiliki angka cemaran dalam kategori Sedang (15,655,4 µg/m3) dikarenakan kota tersebut termasuk kota besar dengan jumlah penduduk yang lumayan banyak serta mobilitasnya tinggi termasuk dalam sektor pariwisata.
Pulau Kalimantan :
Menurut Cholianawati, dkk (2020), pada rata-rata konsentrasi PM 2.5 tahun dari tahun 1999-2015 telah terjadi kenaikan. Kalimantan tengah menjadi Salah satu lokasi di pulau Kalimantan yang memiliki nilai PM 2.5 yang tinggi tepatnya berada di Kota Palangkaraya. Nilai PM 2.5 tahunan di daerah tersebut sebesar 5 hingga 68 g/m3. Di lokasi tersebut, sebanyak 47% dalam rentang waktu 17 tahun, PM 2.5 melebihi baku mutu tahunan dengan angka maksimum di tahun 2002 sebesar 68 g/m3 atau 4 kali lipat lebih tinggi dari baku mutu tahunan yang disebabkan karena adanya kebakaran hutan, dan Masker hijau yang biasa digunakan warga tidak mempan untuk melindungi saluran pernapasan dari kabut asap yang diakibatkan karena kebakaran hutan tersebut. Penyebab lain meningkatnya cemaran PM 2.5 di pulau Kalimantan yaitu akibat adanya penambangan batubara. Badan Energi Internasional mengungkapkan bahwa bahan bakar fosil batubara menyumbang 44⁒ dari total emisi CO2 global.
Pulau Sulawesi :
pulau Sulawesi cenderung mengalami peningkatan. Cemaran PM2.5 disebabkan oleh tingginya nilai rata-rata konsenstrasi nitrogen dioksida (NO2) yang merupakan polutan udara mengalamu peningkatan pada tahun 2016-2017, hal ini disebabkan oleh gas buangan hasil pembakaran kendaraan bermotor yang bersifat mencemari udara dan mengganggu kesehatan. Gas No2 terbentuk dari suatu pembakaran bersuhu tinggi. Selain itu, pemukiman masyarakat juga berpengaruh terhadap kualitas udara, khususnya pada kegiatan memasak di daerah Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara sana. Konsentrasi partikulat meningkat karena masih banyaknya masyarakat yang menggunakan minyak tanah untuk memasak. (Ningsi, dkk ,2019).Kepala BMKG mengatakan bahwa dampak yang dapat ditimbulkan dengan melihat kondisi udara tersebut yaitu menyebabkan gangguan kesehatan jangka pendek. Dampak kesehatan jangka pendek untuk PM 2.5 yaitu dapat menimbulkan penyakit jantung, paru-paru, serta bronchitis. Penyebab utama dari peningkatan partikel udara atau polusi di pulau
Pulau Papua :
Cemaran PM2.5 di Pulau Papua mengalami puncak tertinggi di tahun 2014, dan mengalami penurunan yang cukup esktrim pada tahun 2016. Penyebab meningkatnya cemaran PM 2.5 di pulau Papua disebabkan oleh adanya penambangan batu kapur. Batu kapur ini salah satunya terletak di pulau Papua. Kegiatan industri penambangan batu kapur akan menghasilkan particulate matter (PM 2.5). Menurut Megawati dkk (2019) lewat penelitiannya tentang komposisi kimia batu kapur alam dari industri kapur diketahui dalam PM 2.5 ini juga terkandung berbagai jenis logam diantaranya Al, Cd, Pb. Logam tersebut jika terhirup dengan konsentrasi yang tinggi dan juga dalam waktu yang lama akan menyebabkan berbagai macam penyakit di tubuh manusia.
Kesimpulan :






Comments
Post a Comment